Shalawat kepada Nabi SAW dalam tasyahhud akhir hukumnya wajib. Sedangkan
shalawat kepada keluarga beliau, hukumnya adalah sunnah menurut ulama
al-Syafi`iyah. Adapun
lafaz shalawat kepada Nabi SAW dalam tasyahud akhir seperti yang diperintahkan
oleh Rasulullah SAW adalah:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ
حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ
مَجِيد
(H.R. Bukhari [ dan Ahmad
Para ulama
Syafi’iyah dan Hanafiyah mengatakan sunnat menambah perkataan sayyidina pada
lafazh shalawat tersebut. Dalam kitab Hasyiah al-Bajuri, salah satu kitab
Syafi’iyah dikatakan :
“Pendapat yang
mu’tamad dianjurkan menambah perkataan sayyidina, karena padanya ada sopan
santun.”
Ulama Syafi’iyah
lainnya yang mengatakan sunnat menambah perkataan sayyidina dalam shalawat
dalam shalat antara lain Ibnu Hajar al-Haitamy, al-Ramli, al-Kurdy, al-Ziyadi,
al-Halaby, dan lainnya. Sedangkan
dari kitab ulama Hanafiyah antara lain tersebut dalam Hasyiah ‘ala Muraqi
al-Falah karya Ahmad al-Thahthawy al-Hanafi, beliau mengatakan :
“Berkata
pengarang kitab al-Dar , disunatkan membaca perkataan sayyidina.”
Pendapat yang
senada ini juga dapat dilihat dalam Hasyiah Rad al-Mukhtar, karangan Ibnu
Abidin, juga dari kalangan Hanafiah.
Dalil-dalil fatwa ini, antara lain :
1. Kata-kata “sayyidina” atau ”tuan” atau “yang mulia”
seringkali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat maupun di luar
shalat. Hal itu termasuk amalan yang sangat utama, karena merupakan salah satu
bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Karena itu, Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri menyatakan:
“Pengucapan “sayyidina” merupakan sikap sopan
santun.”
Pendapat ini didasarkan pada Sabda Rasulullah SAW:
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ
وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ
Artinya : Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam
pada hari kiamat. Orang
pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan
orang yang pertama kali diberi hak untuk memberikan syafa’at.” (Shahih
Muslim).
Hadits ini menyatakan bahwa Rasulullah SAW menjadi sayyid di akhirat. Namun
bukan berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya pada hari akhirat saja.
Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia di dunia dan akhirat, sebagaimana dikemukan oleh al-Nawawi dalam
mensyarahkan hadits di atas, yaitu :
“Adapun sabda Rasulullah SAW pada hari kiamat, sedangkan beliau adalah
sayyid, baik di dunia maupun di akhirat, sebab dikaidkan demikian adalah karena
nyata sayyid beliau itu bagi setiap orang, tidak ada yang berusaha mencegah,
menentang dan seumpamanya, berbeda halnya di dunia, maka ada dakwaan dari
penguasa kaum kafir dan dakwaan orang musyrik”.
Berdasarkan
pemahaman ini, maka menjadi sebuah keutamaan nama Rasulullah SAW disebut dalam
shalat dengan menggunakan perkataan sayyidina.
2. Hadits Abu Sa’id, berkata :
قال
رسول الله صلى الله عليه و سلم أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر
Artinya : Rasulullah SAW bersabda, Aku adalah sayyid anak Adam pada hari
kiamat. Aku tidak sombong.(H.R. Turmidzi)
Hadits ini juga
dipahami sebagaimana penjelasan hadits pertama di atas
Sebagian umat Islam
menolak menggunakan sayyidina dalam shalat dengan menuduh perbuatan tersebut
termasuk dalam bid’ah yang dicela dalam agama. Penolakan ini dengan
berargumentasi antara lain :
1. Sabda Rasulullah
SAW :
لاَ
تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلاَةِ
Artinya : Janganlah kalian mengucapkan kalimat
“sayyid” kepadaku dalam shalat.
Jawab kita :
Hadits ini tidak memiliki dasar sama sekali, bahkan
dalam segi bahasa termasuk kesalahan fatal yang tidak mungkin diucapkan oleh
Rasulullah SAW sebagai orang yang paling fasihnya orang arab dalam bertutur
kata. Hal ini dikarenakan kalimat “sayyid“ berasal dari kata “ سَادَ – يَسُوْدُ “ , yang seharusnya ketika menginginkan makna
seperti dalam hadits, maka dengan redaksi “ لاَ
تُسَوِّدُوْنِي “ dan bukanlah dengan “ لاَ
تُسَيِّدُونِي “ . Oleh karena itu, Ibnu Abidin mengatakan :
”Adapun hadits ” Janganlah kalian mengucapkan
kalimat “sayyid” kepadaku dalam shalat, maka batil, tidak ada asal, sebagaimana
telah dikatakan oleh sebagaian hafizh muataakhirin.”
Senada dengan pernyataan di atas juga disampaikan oleh
Syarwani dalam Hasyiah Syarwani ’ala Tuhfah al-Muhtaj.
Dengan demikian, pernyataan di atas yang didakwa
sebagai hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah pelarangan memanggil “sayyid”
kepada Rasulullah SAW.
2.
Sabda Rasulullah SAW,
لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ
مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُه
Artinya : Janganlah kamu menyanjungku sebagaimana sanjungan Nasrani
terhadap Ibnu Maryam, sesungguhnya aku ini seorang hamba, maka katakanlah aku
hamba Allah dan Rasul-Nya. (H.R. Bukhari)
Mereka
mengatakan, hadits melarang kita menyanjung Rasulullah SAW secara berlebihan.
Mengatakan sayyidina termasuk katagori menyanjung secara berlebihan. Tapi katakan untuk
beliau ”Hamba Allah dan Rasul-Nya”
Jawab
kita :
Larangan
pada hadits tersebut adalah menyanjung sebagaimana sanjungan kaum Nashrani
kepada Nabi Isa ibnu Maryam, yakni kaum Nashrani memanggil Isa .a.s. sebagai
tuhan. Menyebut sayyidina sebelum menyebut nama Rasulullah SAW tidak ada
anggapan dan jauh sama sekali dari penuhanan Rasulullah SAW. Sedangkan perintah
mengucapkan kepada Rasulullah SAW pada hadits tersebut ”Hamba Allah dan
Rasul-Nya” adalah dalam konteks larangan menyanjung sebagaimana sanjungan kaum
Nashrani kepada Nabi Isa ibnu Maryam. Artinya, ini tidak berarti
Rasulullah SAW tidak boleh disebut dengan gelar-gelar lain seperti Nabiyullah,
Khatim al-Nabi, sayyidina dan lain-lain. Badruddin al-Ainy al-Hanafi dalam menafsir hadits
di atas mengatakan :
”Sabda Rasulullah
SAW ”sebagaimana sanjungan Nashrani”, maksudnya, pada dakwaan tentang Isa
sebagai tuhan dan lainnya. Sedangkan sabda Rasulullah SAW, ”Aku hamba-Nya dan
seterusnya” maka itu termasuk merendah diri dan mendhahirkannya adalah
tawadhu’.”
Dengan demikian,
hadits ini tidak tepat dijadikan hujjah melarang menyebut sayyidina kepada
Rasullah SAW, baik dalam dalam shalat maupun luar shalat
3.
Hadits dari Anas bin Malik, berkata :
أن
رجلا قال يا محمد يا سيدنا وبن سيدنا وخيرنا وبن خيرنا فقال رسول الله صلى الله
عليه و سلم : يا أيها الناس عليكم بتقواكم ولا يستهوينكم الشيطان أنا محمد بن عبد
الله عبد الله ورسوله والله ما أحب أن ترفعوني فوق منزلتي التي أنزلني الله عز و
جل
Artinya : Seorang lelaki telah datang kepada RAsulullah SAW seraya
berkata:”Ya Muhammad! Ya Sayyidina, Ya anak Sayyidina! ,wahai yang terbaik di
kalangan kami dan anak orang terbaik di kalangan kami !” Rasulullah menjawab:”Wahai
manusia, hendaklah kalian bertaqwa dan jangan membiarkan syaitan mempermainkan
engkau. Sesungguhnya aku adalah Muhammad bin Abdillah, hamba Allah dan
Rasul-Nya dan Demi Allah bahwasanya aku tidak suka sesiapa mengangkat kedudukan
aku melebihi apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tentukan bagiku.(H.R. Ahmad)[
Jawab kita :
Memperhatikan ujung hadits ini yang berbunyi,
“ Demi Allah bahwasanya aku tidak suka sesiapa mengangkat kedudukan
aku melebihi apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tentukan bagiku”
Dan
hadits riwayat Muslim sebelum ini, berbunyi :
“Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat”
Maka
menurut hemat kami, menyebut kata sayyidina kepada Nabi SAW tidaklah termasuk
mengangkat kedudukan Nabi SAW melebihi apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla
tentukan bagi beliau. Karena Rasulullah SAW sendiri mengakui sebagaimana dalam
hadits Muslim di atas bahwa beliau adalah sayyid bagi anak Adam. Lalu bagaimana
dengan hadits Rasulullah SAW yang melarang memanggil beliau dengan sayyid
sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Ahmad ini ?. Jawabnya adalah
larangan tersebut adalah dalam konteksmenyanjung Nabi SAW sebagaimana sanjungan
kaum Nashrani kepada Nabi Isa ibnu Maryam, yakni kaum Nashrani memanggil Isa
.a.s. sebagai tuhan. Pemahaman ini sesuai dengan konteks hadits riwayat Bukhari
di atas, yaitu :
“Janganlah kamu menyanjungku sebagaimana sanjungan Nasrani terhadap Ibnu
Maryam, sesungguhnya aku ini seorang hamba, maka katakanlah aku hamba Allah dan
Rasul-Nya”. (H.R. Bukhari)
Pemahaman hadits
ini telah dijelaskan pada penjelasan hadits ini di atas. Dengan demikian hadits
riwayat Ahmad tersebut tidak terjadi paradoks dengan hadits riwayat Muslim.
4. Rasulullah SAW telah mengajar bagaimana cara
bershalawat kepada beliau dalam shalat dengan tanpa perkataan sayyidina. Shalawat yang diajarkan Rasulullah SAW tersebut berbunyi :
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ
بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد
(H.R.
Bukhari)
Dengan demikian, berarti tidak dibolehkan menambah-nambah zikir dalam
shalat selain zikir yang diajarkan Rasulullah SAW. Membaca sayyidina dalam
shalat berarti menambah-nambah zikir dalam shalat selain zikir yang diajarkan
Rasulullah SAW. Maka perbuatan ini termasuk bid’ah yang tercela. Lagi pula
Rasulullah SAW pernah bersabda :
صلوا كما رأيتموني أصلي
Artinya
: Shalatlah sebagaimana kamu melihat aku shalat
Jawab
kita :
Menambah zikir
dalam dalam shalat selama tidak bertentangan dengan zikir yang ma’tsur dapat
dibenarkan. Hal ini berdasarkan hadits riwayat
Rifa’ah bin Rafi’ al-Zarqy, beliau berkata
:
كنا يوما نصلي وراء النبي صلى الله عليه وسلم، فلما رفع رأسه من الركعة، قال:
سمع الله لمن حمده. قال رجل وراءه: ربنا ولك الحمد، حمدا طيبا مباركا فيه. فلما
انصرف، قال: من المتكلم قال: أنا، قال: رأيت بضعة وثلاثين ملكا
يبتدرونها، أيهم يكتبها أول.
Artinya : Dari Rifa’ah bin Raafi’ al-Zarqi, beliau berkata :
“Pada suatu hari, kami shalat dibelakang Nabi SAW. Manakala Rasulullah
mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau berkata : “Sami’allahu liman hamidah,
lalu berkata seorang laki-laki di belakang beliau : “Rabbana wa lakalhamdu
hamdan thaiban mubarakan fiihi. Tatkala Rasulullah selesai (dari shalatnya)
bertanya : “Siapa yang berkata tadi ?. Laki-laki itu menjawab : “Saya”.
Rasulullah bersabda : “Aku melihat tiga puluh orang lebih malaikat yang berebutan pertama
kali menulis amalnya”. (H.R. Bukhari)
Dalam
hadits di atas, seorang sahabat Nabi menambah sebuah zikir dalam i’tidalnya,
padahal belum ada contoh sebelumnya dari Nabi SAW mengenai zikir tersebut.
Bahkan Nabi SAW memujinya setelah shalat. Ini menunjukkan bahwa boleh menambah
zikir dalam shalat. Tentunya ini selama tidak bertentangan dengan zikir yang
ma’tsur. Dalam mengomentari hadits di atas, Ibnu Hajar al-Asqalany mengatakan :
“ Dijadikan dalil dengan hadits tersebut, kebolehan mengihdats
(mendatangkan dengan tanpa ada dalil) zikir yang tidak ma’tsur dalam shalat
apabila zikir itu tidak bertentangan dengan zikir yang ma’tsur”.
Berdasarkan
pemahaman ini, maka dapat dipahami kenapa ada beberapa sahabat ada yang
melakukan penambahan zikir dalam shalat, seperti tindakan Ibnu Umar menambah
perkataan “wa barakatuhu” dan “wahdahu la syarika lahu” dalam tasyahud shalat
sebagaimana pernyataan beliau dalam hadits Abu Daud yang
kualiatas hadits tersebut adalah shahih.
Mengenai
hadits “Shalatlah sebagaimana kamu melihat aku
shalat” di atas, lengkapnya
hadits ini adalah dari Abu Qilabah
حَدَّثَنَا
مَالِكٌ أَتَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ شَبَبَةٌ
مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ يَوْمًا وَلَيْلَةً ، وَكَانَ
رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَحِيمًا رَفِيقًا فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدِ
اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا ، أَوْ قَدِ اشْتَقْنَا سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا
بَعْدَنَا فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ
وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ - وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا ، أَوْ لاَ
أَحْفَظُهَا - وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي فَإِذَا حَضَرَتِ
الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ
Artinya : Malik
mengabarkan : Kami datang kepada Nabi SAW Dan tinggal bersamanya dua puluh hari
dan malam. Kami semua adalah anak-anak muda dengan umur yang hampir sama.
Rasulullah SAW ramah dan bersahabat dengan kami. Sewaktu beliau mengetahui
kerinduan kami kepada keluarga-keluaga kami, beliau bertanya kepada kami
tentang orang yang kami tinggal (di rumah) dan kamipun memberitahukannya. Lalu
beliau berkata kepada kami, ”Pulanglah kepada keluarga-keluargamu dan
dirikanlah shalat bersama mereka, ajarkanlah mereka (agama) dan suruhlah mereka
melakukkan hal-hal yang baik”. Rasulullah SAW menyebutkan hal-hal lain yang
telah aku (ingat) dan yang aku lupa. Nabi lalu menambahkan: " Shalatlah
sebagaimana melihatku shalat dan apabila waktu shalat telah datang, maka hendaklah
di antara kamu adzan dan orang yang tertua di antara kamu menjadi imam”. (H.R. Bukahri22[22] dan Syafi’i)[23]
Sebagaimana
dipahami dari teks hadits di atas, dapat dipahami bahwa sabda Rasulullah SAW
tersebut diucapkan dalam rangka memberi bekal pengetahuan kepada Malik dan
kawan-kawan yang sudah dua belas hari menetap bersama Rasulullah SAW, kemudian
berkeinginan pulang kepada keluarganya masing-masing. Untuk itu, Rasulullah SAW
bersabda kepada mereka, ”Shalatlah sebagaimana melihatku shalat”. Lalu
sekarang muncul pertanyaan, Apakah sabda Rasulullah SAW tersebut dapat
mengharamkan perbuatan seseorang dalam shalatnya yang tidak diketahui
Rasulullah SAW pernah melakukannya ? Jawabannya adalah sebagai berikut :
a. Manthuq (diri lafadh) sabda
Rasulullah SAW tersebut hanya menjelaskan bahwa perbuatan yang dilakukan
Rasulullah SAW dalam shalat beliau wajib diikuti. Jadi, tidak ada penjelasan
dalam sabda tersebut mengenai sesuatu yang tidak dikerjakan Rasulullah SAW
dalam shalat beliau, apakah haram, makruh, mubah atau sunat melakukannya ?
b. Mafhum
mukhalafah (pemahaman kebalikan) dari sabda Rasulullah SAW di atas,
juga tidak dapat menjawab mengenai sesuatu yang tidak dikerjakan Rasulullah SAW
dalam shalat beliau, apakah haram, makruh, mubah atau sunat melakukannya ?
Karena mafhum mukhalafah-nya adalah ”Kalau kamu tidak pernah
melihatnya sebagaimana aku shalat, maka aku tidak memerintah (wajib)
melakukannya.” Tidak memerintah dalam arti wajib ini, tentunya tidak
berarti haram. Boleh jadi makruh, mubah dan bahkan sunat. Dengan demikian,
sabda Rasulullah SAW di atas tidak tepat digunakan sebagai dalil tidak boleh
menambah zikir dalam shalat seperti perkataan sayyidina dalam
tasyahud.
5. Ada sebagian kaum muslimin yang berpendapat
penambahan perkataan ”sayyidina” dalam tasyahud shalat merupakan perbuatan
bid’ah yang harus dijauhi, berargumentasi bahwa penambahan tersebut
bertentangan dengan perintah Rasulullah SAW yang mencukupkan penyebutan nama
Muhammad tanpa tambahan ”sayyidina” pada tata cara shalawat kepada beliau,
sebagaimana disebut dalam hadits riwayat Bukhari dan Ahmad di atas.
Jawab kita :
Seandainya (sekali
lagi seandainya) kita memahami bahwa perintah dalam hadits tersebut merupakan
perintah bershalawat kepada Rasululllah SAW dengan tidak boleh menambah
perkataan ”sayyidina”, maka perintah Rasulullah ini termasuk dalam katagori
perintah yang bertentangan dengan sikap adab kita kepada beliau sendiri. Dalam
masalah ini, para ulama berbeda pendapat dalam menyikapinya. Sebagian ulama
berpendapat lebih baik mengikuti perintah, sedangkan sebagian lain berpendapat
lebih baik mengikuti adab.[ Pendapat
lebih baik mengikuti adab kita kepada Rasulullah SAW lebih rajih dibandingkan
pendapat lebih baik mengikuti perintah beliau. Amirulmukminin Abu Bakar r.a.
pernah pada suatu ketika sedang mengimami shalat manusia, tidak mengikuti
perintah Rasulullah SAW untuk tetap menjadi imam, bahkan beliau tetap mundur
dari imam mempersilakan Rasulullah SAW maju menjadi imam. Sikap Abu
Bakar tetap mundur tidak mengikuti perintah Rasulullah tersebut sebagai sikap
adab beliau kepada Rasulullah SAW sebagaimana tercermin dalam hadits riwayat
Bukhari dan Muslim secara lengkap di bawah ini :
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ إِلَى بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ
فَحَانَتِ الصَّلَاةُ فَجَاءَ الْمُؤَذِّنُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ فَقَالَ:
أَتُصَلِّي بِالنَّاسِ فَأُقِيمُ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ
فَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ فِي الصَّلَاةِ
فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ، فَصَفَّقَ النَّاسُ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ
لَا يَلْتَفِتُ فِي الصَّلَاةِ، فَلَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ التَّصْفِيقَ
الْتَفَتَ فَرَأَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَشَارَ
إِلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِ امْكُثْ مَكَانَكَ،
فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ يَدَيْهِ فَحَمِدَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى مَا أَمَرَهُ
بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ذَلِكَ، ثُمَّ
اسْتَأْخَرَ أَبُو بَكْرٍ حَتَّى اسْتَوَى فِي الصَّفِّ، وَتَقَدَّمَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى، ثُمَّ انْصَرَفَ فَقَالَ: «يَا أَبَا
بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرْتُكَ» قَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا
كَانَ لِابْنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: «مَا لِي رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمُ التَّصْفِيقَ؟ مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ
فِي صَلَاتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ
وَإِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ»
Artinya : Dari Sahal bin Sa'd As Sa'idi, bahwa suatu hari Rasulullah SAW
pergi menemui Bani 'Amru bin 'Auf untuk menyelesaikan masalah di antara mereka.
Kemudian tiba waktu shalat, lalu ada seorang mu'adzin menemui Abu Bakar seraya
berkata, "Apakah engkau mau memimpin shalat berjama'ah sehingga aku
bacakan iqamatnya?" Abu Bakar menjawab, "Ya." Maka Abu Bakar
memimpin shalat. Tak lama kemudian datang Rasulullah SAW, sedangkan orang-orang
sedang melaksanakan shalat. Lalu beliau bergabung dan masuk ke dalam shaf.
Orang-orang kemudian memberi isyarat dengan bertepuk tangan, namun Abu Bakar
tidak bereaksi dan tetap meneruskan shalatnya. Ketika suara tepukan semakin
banyak, Abu Bakar berbalik dan ternyata dia melihat ada Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW memberi isyarat yang maksudnya: 'Tetaplah kamu pada posisimu'.
Abu Bakar mengangkat kedua tangannya lalu memuji Allah atas perintah Rasulullah
SAW tersebut. Kemudian Abu Bakar mundur dan masuk dalam barisan shaf lalu
Rasulullah SAW maju dan melanjutkan shalat. Setelah shalat selesai, beliau
bersabda: "Wahai Abu Bakar, apa yang menghalangimu ketika aku perintahkan
agar kamu tetap pada posisimu?" Abu Bakar menjawab, "Tidaklah patut
bagi anak Abu Qahafah untuk memimpin shalat di depan Rasulullah". Maka
Rasulullah SAW bersabda: "Mengapa kalian tadi banyak bertepuk tangan?.
Barangsiapa menjadi makmum lalu merasa ada kekeliruan dalam shalat, hendaklah
dia membaca tasbih. Karena jika dibacakan tasbih, dia (imam) akan
memperhatikannya. Sedangkan tepukan untuk wanita." (H.R. Muslim dan Bukhar
Berdasarkan pendapat yang rajih ini yang didasarkan kepada hadits shahih
riwayat Bukhari dan Muslim di atas, maka menambah “sayyidina” pada tasyahud
shalat yang merupakan sikap adab kita kepada Rasulullah SAW lebih utama
dilakukan dibandingkan bershalawat kepada Rasulullah SAW tanpa tambahan
“sayyidina” yang merupakan perintah Rasulullah SAW. Penjelasan senada dengan
ini pernah dikemukakan oleh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam kitab beliau, al-Dur
al-Manzhud